Perawatan Luka dengan Daun Senduduk


PENGARUH DAUN SENDUDUK (Melastoma malabathricum.L)
TERHADAP PENYEMBUHAN LUKA BAKAR





Disusun Oleh :
        1.    ASMAT BURHAN            (10620345)    
        2.    MOISES D. C.                  (10620363)
        3.    RIZKY D.C RAHAYU      (10620373)
        4.    WAHYU EKAWATI          (10620379)
        5.    YANUARIUS F.R             (10620381)







PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS KADIRI
2011









BAB 1
PENDAHULUAN

1.1         Latar Belakang
Luka adalah suatu gangguan dari kondisi normal pada kulit ( Taylor, 1997). Luka adalah kerusakan kontinyuitas kulit, mukosa membran dan tulang atau organ tubuh lain (Kozier, 1995).
Luka bakar adalah kehilangan jaringan yang disebabkan kontak dengan sumber panas seperti air, api, bahan kimia, listrik dan radiasi (Moenadjat, 2003). Luka bakar akan mengakibatkan tidak hanya kerusakan kulit, tetapi juga amat mempengaruhi seluruh sistem tubuh pasien. Pada pasien dengan luka bakar luas (mayor) tubuh tidak mampu lagi untuk mengkompensasi sehingga timbul berbagai macam komplikasi yang memerlukan penanganan khusus (Effendi, 1999).
Luka bakar merupakan penyebab kematian ketiga akibat kecelakaan pada semua kelompok umur. Laki-laki cenderung lebih sering mengalami luka bakar dari pada wanita, terutama pada orang tua atau lanjut usia ( diatas 70 th).
Banyak orang masuk rumah sakit setiap tahunnya disebabkan karena luka bakar. Luka bakar tidak hanya berpengaruh terhadap kulit tetapi berpengaruh terhadap sistem tubuh secara menyeluruh. Menghisap asap dan infeksi pada luka merupakan komplikasi pasien yang mengalami luka bakar.
Peristiwa kecelakaan luka bakar pada umumnya adalah disebabkan oleh faktor kelalaian manusia. Pada kenyataannya memang pengetahuan dan disiplin masyarakat umum terhadap penyebab dan akibat yang ditimbulkan peristiwa kecelakaan luka bakar adalah masih sangat minim dan memprihatinkan. Banyak contoh perilaku keseharian masyarakat disekitar kita yang tanpa disadari dapat menyebabkan terjadinya peristiwa kecelakaan luka bakar, seperti misalnya penggunaan telepon selular pada saat mengisi bensin di SPBU atau pedagang bensin eceran yang berjualan di sebelah kios rokok.
Masyarakat Indonesia sudah sejak zaman dahulu mengenal dan memanfaatkan tanaman berkhasiat obat sebagai salah satu upaya dalam penanggulangan masalah kesehatan yang dihadapi, jauh sebelum pelayanan kesehatan formal dengan obat-obatan modern. Pemeliharaan dan pengembangan pengobatan tradisional sebagai warisan budaya bangsa terus ditingkatkan dan didorong pengembangannya melalui penggalian, pengujian dan penemuan obat-obat baru, termasuk budidaya tanaman yang secara medis dapat dipertanggungjawabkan.
Salah satu tanaman berkhasiat untuk menyembuhkan luka bakar adalah tumbuhan senduduk (Melastoma malabathricum L) dari suku Melastomataceae. Tumbuhan ini mempunyai khasiat sebagai pereda demam, penghilang nyeri, peluruh urin, mengobati keputihan, menghilangkan pembengkakan, darah haid yang berlebihan, dan mengobati luka bakar atau luka berdarah.
Menurut pengalaman masyarakat di Aceh, daun senduduk dapat digunakan sebagai obat luka dengan cara membubuhkan daun segar atau daun yang dikeringkan setelah digiling halus pada luka bakar atau luka berdarah. Senduduk mengandung senyawa flavonoida, saponin, tanin, glikosida, steroida/triterpenoida yang berperan sebagai penyembuh luka.

1.2         Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, dapat dirumuskan masalah sebagai beikut:
1.2.1        Bagaimanakah daun tumbuhan senduduk dapat digunakan untuk penyembuhan luka bakar?
1.2.2        Bagaimanakah cara perawatan luka bakar dengan menggunakan daun tumbuhan senduduk?

1.3         Tujuan
1.3.1        Tujuan Umum
Mengetahui kegunaan dari daun tumbuhan senduduk untuk penyembuhan luka bakar.
1.3.2        Tujuan Khusus
Untuk mengetahui cara penggunaan daun tumbuhan senduduk sebagai penyembuhan luka bakar.

1.4         Manfaat
1.4.1    Bagi Mahasiswa
Agar dapat menambah wawasan mahasiswa tentang manfaat daun tumbuhan senduduk sebagai penyembuhan luka bakar.
1.4.2    Bagi Institusi
Agar dapat memberikan penjelasan yang lebih luas tentang penyembuhan pada luka bakar dengan menggunakan tumbuhan herbal.
1.4.3    Bagi Masyarakat
Agar menambah pengetahuan tentang cara penyembuhan luka bakar dengan menggunakan daun tumbuhan senduduk dan bagaimana cara penggunaannya.
















BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1     Tumbuhan Senduduk (Melastoma malabathricum L)
2.1.1    Sistematika Tumbuhan (Depkes dan Kesejahteraan RI, 2001)
Divisi       : Spermatophyta
Sub divisi : Angiospermae
Kalas        : Dicotyledoneae
Bangsa     : Myrtales
Suku        : Melastomataceae
Marga      : Melastoma
Jenis         : Melastoma malabathricum L

2.1.2    Sinonim
Nama lain dari senduduk (Melastoma malabathricum L.) adalah Melastoma affine G.Don, Melastoma polyanthum B1 (Depkes RI, 1995)

2.1.3    Nama Daerah
Nama daerah tumbuhan ini di sumatra adalah senduduk, sedangkan di jawa di kenal dengan nama senggani, sengganen, kluruk, harendong dan kemanden (Depkes RI, 1995)

2.1.4    Deskriptif Tumbuhan
Tumbuhan senduduk (Melastoma malabathricum L) tumbuh liar pada tempat-tempat yang mendapat cukup sinar matahari, seperti di lereng gunung, semak belukar, lapangan yang tidak terlalu gersang, atau di daerah objek wisata sebagai tanaman hias dan dapat tumbuh sampai ketinggian 1.650 m di atas permukaan air laut. Perdu tegak, tinggi 0,5-4 m banyak bercabang, bersisik, berambut, daun tunggal, bertangkai, letak berhadapan silang. Helai daun bundar telur memandang sampai lonjong. Ujung lancip, pangkal membulat, tepi rata, permukaan berambut pendek yang jarang dan kaku sehingga teraba kasar. Berbunga majemuk keluar di ujung cabang, warna ungu kemerahna. Buah masak akan merekah dan terbagi dalam berbagai bagian, warnanya ungu kemerahan. Biji kecil-kecil warnanya coklat. Buahnya dapat dimakan, sedangkan daun muda dapat dimakan sebagai lalap atau di sayur. Perbanyakan dengan biji (dalimartha, 2000).

2.1.5    Kandungan Dan Manfaat
Senduduk mengandung senyawa flavonoida, saponin, tanin, glikosida, steroida/triterpenoida. Zat aktif yang terkandung daun senduduk yang berperan sebagai penyembuh luka yaitu:
a.    Flavonoid berfungsi sebagai anti bakteri, antioksidan, dan jika diberikan pada kulit dapat menghambat pendarahan.
b.    Steroid berfungsi sebagai antiinflamasi.
c.    Saponin memiliki kemampuan sebagai pembersih dan antiseptik yang berfungsi membunuh atau mencegah pertumbuhan mikroorganisme (Robinson, 1995).
d.   Tanin berfungsi sebagai astringen yang dapat menyebabkan penutupan pori-pori kulit, memperkeras kulit, menghentikan eksudat dan pendarahan yang ringan (Anief,1997).
Tumbuhan ini berkhasiat untuk mengobati diare, keputihan, obat kumur, luka bakar, sariawan, pendarahan rahim, dan luka berdarah (Djauhariya dan Hermani, 2004).

2.2     Ekstrak
Ekstrak adalah sediaan pekat yang diperoleh dengan mengekstraksi zat aktif dari simplisia nabati atau simplisia hewani menggunakan pelarut yang sesuai, kemudian semua atau hampir semua pelarut diuapkan dan massa atau serbuk yang tersisa diperlakukan sedemikian hingga memenuhi baku yang ditetapkan (Depkes RI, 1995).
Ekstraksi adalah suatu proses pemisahan kandungan senyawa kimia dari jaringan tumbuhan ataupun hewan dengan menggunakan penyari tertentu. Ada beberapa metode ekstraksi, yaitu:
a.    Cara dingin
1)        Maserasi
Maserasi adalah proses pengekstraksian simplisisa dengan mengunakan pelarut dengan beberapa kali pengocokan atau pengadukan pada temperatur ruangan (kamar).
2)        Perkolasi
Perkolasi adalah ekstraksi dengan pelarut yang selalu baru sampai terjadi penyaringan sempurna yang umumnya dilakukan pada temperatur kamar.
b.    Cara panas
1)        Refluks
Refluks adalah ekstraksi dengan pelarut pada temperatur titik didihnya selama waktu tertentu dan dalam jumlah pelarut terbatas yang relatif konstan dengan adanya pendingin balik (Depkes RI, 2000).
2)        Digesti
Digesti adalah maserasi dengan pengadukan kontinu pada temperatur yang lebih tinggi dari temperatur kamar yaitu pada 40-50°C (Depkes RI, 2000).
3)        Infus
Infus adalah ekstraksi menggunakan pelarut air pada temperatur penangas air (bejana infus tercelup dalam penangas air mendidih, temperatur terukur 90°C ) selama 15 menit (Depkes RI, 2000).
4)        Dekok
Dekok adalah ekstraksi dengan pelarut air pada temperatur 90°C selama 30 menit (Depkes RI, 2000).
5)        Sokletasi
Sokletasi adalah metode ekstraksi untuk bahan yang tahan pemanasan dengan cara meletakan  bahan yang akan di ekstraksi dalam sebuah kantung ekstraksi (kertas saring) didalam sebuah alat ekstraksi dari gelas yang bekarja kontinu (voigt,1995)

2.3     Krim
Krim adalah bentuk sediaan setengah padat yang mengandung satu atau lebih bahan obat terlarut atau terdispersi dalam bahan dasar yang sesuai. Krim digunakan sebagai :
1.    Bahan pembawa obat untuk pengobatan kulit
2.    Bahan pelembut kulit
3.    Pelindung kulit yaitu mencegah kontak permukaan kulit dengan larutan berair dan rangsang kulit (Anief, 2000)

2.4     Luka
2.4.1  Pengertian Luka
Luka adalah suatu keadaan kerusakan jaringan dan dapat mengenai stuktur yang lebih dalam dari kulit seperti saraf, otot, atau membran. Luka, cacat atau kerusakan kulit dan jaringan dibawahnya disebabkan oleh:
1.   Trauma mekanis yang disababkan karena tergesek, terpotong, terpukul, tertusuk, terbentur dan terjepit.
2.   Trauma elektris yang disebabkan cedera listrik dan petir.
3.   Trauma termis yang disababkan panas dan dingin.
4.   Trauma kimia yang disebabkan oleh zat kimia yang bersifat asam dan basa serta zat iritatif lainnya.(Karakata dan Bachsinar,1995)

2.4.2 Klasifikasi Luka
Berdasarkan kedalaman jaringan yang dikenai, luka dapat dibagi dua yaitu:
1.   Simpleks, bila hanya melibatkan kulit.
2.   Komplikatum, bila melibatkan kulit dan jaringan dibawahnya. (Karakata dan Bachsinar,1995).

Berdasarkan keadaannya luka dibagi atas dua bagian, yaitu:
1.   Luka tertutup. Dalam hal ini kulit masih utuh.contohnya:
a.       Vulnus contussum atau luka memar. Disini kulit tidak rusak,tetapi pada pembuluh darah sub kutan, sehingga dapat terjadi hematom.
b.      Vulnus traumaticum. Terjadi di dalam tubuh,tetapi tidak tampak dari luar.
2. Luka terbuka. Dalam keadaan ini kulit sudah robek.Contohnya:
a.         Ekskoriasi atau luka lecet adalah cedera pada permukaan epidermis akibat bersentuhan dengan benda berpermukaan kasar atau rata.
b.         Vulnus scissum adalah luka sayat atau iris yang ditandai dengan tepi luka berupa garis lutus beraturan.
c.         Vulnus laceratum atau luka robek adalah luka dengan tepi beraturan atau compang-camping biasanya karena tarikan atau goresan benda tumpul.
d.        Vulnus punctum atau luka tusuk adalah luka akibat tusukan benda runcing yang biasanya kedalaman luka lebih dari lebarnya.
e.         Vulnus caesum atau luka potong adalah luka yang disebabkan oleh benda tajam yang besar,dengan tepi tajam dan rata.
f.          Vulnus sclopetorum atau luka tembak yang terjadi karena tembakan, granat, dan sebagainya, dengan tepi luka yang tidak teratur.
g.         Vulnus morsum atau luka gigit yang disebabkan oleh gigitan binatang atau manusia,bentuk luka tergantung bentuk gigi penggigit.(Karakata dan Bachsinar,1995).



2.5     Luka Bakar
Luka bakar adalah suatu bentuk kerusakan atau kehilangan jaringan yang disebabkan oleh kontak dengan sumber panas seperti api, air panas, bahan kimia,  listrik, dan radiasi. Luka bakar merupakan suatu jenis trauma dengan mordibitas dan mortalitas yang tinggi yang memerlukan penatalaksanaan khusus sejak awal (fase syok) sampai fase lanjut. (Yefta, 2003).
Kulit atau jaringan tubuh yang terbakar akan menjadi jaringan nekrotik.kalau luka karena benda tajam atau benda tumpul, bila ada jaringan nekrotik kita harus berusaha melakukan debridement pada waktu pertama kali pencucian luka tetapi lain pada luka bakar, jaringan nekrotik ini tidak dapat dibuang segera tetapi tetep lekat di tubuh penderita untuk waktu yang relatif lama. Tetap beradanya jaringan jaringan nekrotik di tubuh si penderita akan mengandung infeksi serta kesukaran-kesukaran lain dalam perawatannya (Marzoeki, 1993).
Berat ringannya luka bakar tergantung dari lamanya dan banyaknya kulit badan yang terbakar.Kerusakan paling ringan akibat terbakar yang timbul pada kulit adalah warna merah pada kulit. Bila lebih berat, timbul gelembung. Pada keadaan yang lebih berat lagi bila seluruh kulit terbakar sehingga dagingnya tampak, sedangkan yang terberat adalah bila otot-otot ikut terbakar (Oswari, 2003).

2.5.1 Klasifikasi Luka Bakar
Luka bakar dibedakan menjadi beberapa jenis berdasarkan penyebab dan kedalaman kerusakan jaringan.
1.        Berdasarkan penyebabnya, luka bakar dibedakan atas beberapa jenis, antara lain:
a.    Luka bakar karena api
b.    Luka bakar karena air panas
c.    Luka bbakar karena bahan kimia (yang bersifat asam atau basa kuat)
d.   Luka bakar karena listrik
e.    Luka bakar karen logam panas
f.     Luka bakar karena radiasi
g.    Cedera karena suhu sangat rendah
2.        Berdasarkan kedalaman kerusakan jaringan, luka bakar dibedakan atas beberapa jenis yaitu:
a.    Luka bakar derajat I :
-     Kerusakan terbatas pada superfisial epidermis
-     Kulit kering, tampak pucat sebagai eritrema
-     Tidak dijumpai bula (gelembung berisi cairan)
-     Nyeri karena ujung-ujung saraf sensorik teriritasi
-     Penyembuhan terjadi secara spontan dalam waktu 5-10 hari
b.    Luka bakar derajat II :
-     Kerusakan meliputi dermis dan epidermis
-     Dijumpai bula
-     Dasar luka berwarna merah atau pucat, terletak lebih tinggi dari atas kulit normal
-     Nyeri karena ujung-ujung saraf sensorik teriritasi
Luka bakar derajat II dibedakan menjadi 2, yaitu :
1.    Derajat II dangkal (superficial)
Kerusakan mengenai bagian superfisial dermis. Apendices kulit seperti folikel rambut, kelenjar keringat, kelenjar sebasea masih utuh. Penyembuhan terjadi secara spontan dalam waktu 10-14 hari.
2.    Derajat II dalam (deep)
Kerusakan hampir seluruh bagian dermis. Apendices kuulit seperti folikel rambut, kelenjar keringat, kelenjar sebasea masih utuh. Penyembuhan lebih lama, tergantung kulit tersisa. Biasanya penyembuhan terjadi lebih dari satu bulan.


c. Luka bakar derajat III
-     Kerusakan meliputi seluruh ketebalan dermis dan lapisan yang lebih dalam
-     Apendices kulit seperti folikel rambut, kelenjar keringat, kelenjar sebasea mengalami kerusakan
-     Tidak dijumpai bula
-     Kulit yang terbakar berwarna abu-abu dan pucat, kering, letaknya lebih rendah dibandingkan kulit sekitar koagulasi protein dan lapisan epidermis dan dermis
-     Tidak dijumpai rasa nyeri, bahkan hilang sensasi karerna ujung-ujung saraf sensorik mengalami kerusakan atau kematian.
-     Penyembuhan terjadi lama karena tidak ada proses epitelisasi spontan baik dari dasar luka, tepi luka maupun apendices kulit. (Moenadjat, 2003).

2.5.2  Penyembuhan Luka Bakar
Tindakan yang dapat dilakukan pada luka bakar adalah dengan memberikan terapi local dengan tujuan mendapatkan kesembuhan secepat mungkin, sehingga jumlah jaringan fibrosis yang terbentuk akan sedikit dan dengan demikian mengurangi jaringan parut. Diusahakan pula pencegahan terjadi peradangan yang merupakan hambatan paling besar terhadap kecepatan penyembuhan (Henderson M.A, 1997).
Proses penyembuhan luka yang dibagi dalam tiga fase yaitu fase inflamasi, proliferasi dan penyudahan yang merupakan penyerupaan kembali (remodeling) jaringan.
1.    Fase inflamasi
Fase inflamasi berlangsung sejak terjadinya luka sampai hari kelima. Pembuluh darah yang terputus pada luka menyebabkan perdarahan dan tubuh akan berusaha menghentikannya dengan vasokontriksi. Pengerutan pembuluh yang terputus (retraksi) dan reaksi hemostasis. Hemostasis terjadi karena trombosit yang keluar dari pembuluh darah saling melengket dan bersama dengan jala fibrin yang terbentuk membekukan darah yang keluar dari pembuluh darah.
Sel mast dalam jaringan ikat menghasilkan serotonin dan histamine yang meningkatkan permeabilitas kapiler sehingga terjadi eksudat cairan, pembentukan sel radang disertai vasodilatasi setempat menyebabkan pembengkakan.

2.    Fase proliferasi
Fase poliferasi disebut juga fibroplasias karena yang menonjol adalah proses proliferasi fibroblast. Fase ini berlangsung dari akhir fase inflamasi sampai kira-kira akhir minggu ketiga. Pada fase ini serat kolagen yang mempertautkan tepi luka.

3.    Fase penyudahan
Pada fase ini terjadi proses pematangan yang terdiri dari penyerapan kembali jaringan yang berlebih dan perupaan kembali jaringan yang terbentuk. Fase ini dapat berlangsung berbulan-bulan dan dinyatakan berakhir kalau semua tanda radang sudah lenyap. Tubuh berusaha menormalkan kembali semua yang menjadi abnormal karena proses penyembuhan (Sjamsuhidajat. R dan Wim de jong, 1997). 


 




BAB 3
PEMBAHASAN

3.1         Pengolahan Daun Senduduk
Daun senduduk yang telah dikumpulkan dibersihkan dengan air bersih, ditiriskan di atas tampah yang dialasi dengan koran. Selanjutnya ditimbang sebagi berat basah sebesar 7,5 kg, kemudian dikeringkan dengan cara dimasukkan kedalam lemari pengering. Setelah ditimbang sebagai berat kering sebesar 2,5 kg. Daun senduduk yang telah kering diserbuk dengan blender.

3.2     Pembuatan EEDS (Ekstrak Etanol Daun Senduduk)
Pembuatan ekstrak dilakukan secara perkolasi dengan menggunakan pelarut etanol 96%.

Prosedur pembuatan ekstrak
Sejumlah serbuk daun senduduk dibasahi dengan etanol dan dibiarkan selama 3 jam, kemudian dimasukkan kedalam alat perkolator, lalu dituang cairan etanol 96% secukupnya sampai terendam dan terdapat selapis cairan penyari diatasnya, mulut tabung ditutup dengan aluminium foil dan biarkan selama 24 jam, kemudian kran dibuka dan biarkan tetesan ekstrak mengalir. Perkolasi dihentikan setelah 500 mg perkolat terakhir diuapkan tidak meninggalkan sisa. Selanjutnya ekstrak diuapkan dengan penguap vakum putar pada temperatur tidak lebih dari 50oC sampai diperoleh ekstrak kental.

3.3     Pembuatan Krim Ekstrak Luka Bakar
3.3.1  Pembuatan Krim
Sediaan krim yang digunakan adalah krim tipe minyak dalam air dan dibuat berdasarkan formula standar vanishing cream (ISFI, 1971) yaitu asam stearat, gliserin, natrium biborat, trietanolamin, air suling, nipagin.

Cara pembuatan yaitu:
Timbang semua bahan yang diperlukan. Bahan yang terdapat dalam formula dipisahkan menjadi dua kelompok yaitu fase minyak dan fase air. Fase minyak yaitu asam stearat dilebur di atas penangas air dengan suhu 70o-75oC, fase aiy yaitu trietanolamin, gliserin, metil paraben dan air suling dilarutkan dalam air panas. Kemudian fase minyak dipindahkan ke dalam lumpang panas. Fase air ditambahkan secara perlahan-lahan ke dalam fase minyak dengan pengadukan yang konstan sampai diperoleh massa krim

3.3.2 Pembuatan Krim Ekstrak Luka Bakar
Timbang 5 gram ekstrak kental, kemudian masukkan kedalam lumpang diencerkan dengan sedikit pelarut kemudian digerus. Ditambahkan 100 gram bahan dasar krim sedikit demi sedikit sambil digerus samapi homogen.

3.4     Penggunaan Sediaan Krim Terhadap Luka Bakar
Penggunaan sediaan krim yaitu dengan mengoleskan pada kulit yang melepuh atau yang mengalami luka bakar tersebut sebanyak 0,350 gram secara merata pada permukaan luka dengan interval pengolesan 6 jam (tiga kali sehari).











BAB 4
PENUTUP

4.1         Kesimpulan
Daun tumbuhan senduduk mengandung saponin, tanin, flavonoid, glikosida, dan streoid.
Tanin berfungsi sebagai adstringen yang dapat menyebabkan penciutan pori-pori kulit, memperkeras kulit, menghentikan eksudat dan pendarahan yang ringan (Anief, 1997), sehingga mampu menutup luka dan mencegah pendarahan yang biasa timbul pada luka.
Saponin memiliki kemampuan sebagai pembersih dan antiseptik yang berfungsi membunuh atau mencegah pertumbuhan mikroorganisme yang biasa timbul pada luka sehingga luka tidak mengalami infeksi yang berat (Robinson, 1995).
Flavonoid bersifat sebagai anti inflamasi, anti alergi, mencegah proses oksidasi, dan anti oksidan serta berbagai fungsi lainnya (Jansen, 2006). Steroid sebagai anti radang yang mampu mencegah kekakuan dan nyeri (Tan Hoan Tjay & Kirana, 2002).
Dalam penyembuhan luka, daun tumbuhan senduduk dapat diolah menjadi krim agar dapat digunakan untuk penyembuhan luka bakar. Cara penggunaan sediaan krim pada luka bakar yaitu dengan mengoleskan sediaan krim pada kulit yang melepuh atau yang mengalami luka bakar tersebut sebanyak 0,350 gram secara merata pada permukaan luka dengan interval pengolesan 6 jam (tiga kali sehari).

4.2         Saran
4.2.1        Bagi Mahasiswa
Diharapkan mampu memahami dan dapat menambah wawasan mahasiswa tentang manfaat daun tumbuhan senduduk sebagai penyembuhan luka bakar.


4.2.2        Bagi Institusi
Diharapkan dapat memberikan penjelasan yang lebih luas tentang penyembuhan pada luka bakar dengan menggunakan tumbuhan herbal.
4.2.3        Bagi Masyarakat
Diharapakan agar dapat menambah pengetahuan tentang cara penyembuhan luka bakar dengan menggunakan daun tumbuhan senduduk dan bagaimana cara penggunaannya.
























DAFTAR PUSTAKA

Moenajat, Y. (2003). Luka Bakar Pengetahuan Klinik Praktis. Edisi II. Jakarta: Fakultas Kedokteran UI

Noname. (2010). Senggani. http://www.naturindonesia.com/tanaman-obat-indonesia/abjad-awal-s/303-senggani.html (diakses tanggal 21 Oktober 2011, Jam 14:47)

Simanjuntak R. Megawati. 2008. Ekstraksi dan Fraksinasi Komponen Ekstrak Daun Tumbuhan Senduduk (Melastoma malabathricum.L) Serta Pengujian Efek Sediaan Krim Terhadap Penyembuhan Luka Bakar. http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/14472/1/09E01171.pdf (diakses tanggal 21 Oktober 2011, Jam 12:34)







0 komentar:

Poskan Komentar